Jumat, 28 Agustus 2026

KI BAGUS RANGIN: PAHLAWAN ASAL MAJALENGKA PEMIMPIN PERANG SANTRI MELAWAN BELANDA



Tokoh Utama Perang Santri

Nama Bagus Rangin tak bisa dipisahkan dari peristiwa Perang Santri atau Perang Kedongdong yang berlangsung pada 1802 hingga 1818. Ia memimpin ribuan rakyat, santri, ulama, dan petani melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan bahkan hingga Subang dan Karawang. Perlawanan ini bahkan terjadi lebih dari dua dekade sebelum meletusnya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Lahir di Majalengka

Walaupun memimpin perang di Cirebon, Bagus Rangin ternyata lahir di Majalengka. Berdasarkan Babad Dermayu, Bagus Rangin lahir di Rajagaluh, namun versi lain mengatakan Bagus Rangin lahir di Bantarjati, Kertajati dengan nama Pangeran Atas Angin atau Pangeran Bagus Rarangin. Ki Bagus Rangin juga mempunyai tiga orang saudara. Kakaknya bernama Bagus Jabin dan kedua adiknya Bagus Salimar, dan Bagus Serit yang turut terlibat juga dalam perang kedongdong.

Berdarah Bangsawan Kasultanan Kasepuhan Cirebon

Ki Bagus Rangin atau Pangeran Atas Angin merupakan anak dari Bagus Sentayem atau Ki Bagus Tenom/Teyom yang sebenarnya bernama Pangeran Suryadiningrat, keturunan dari Syekh Idrus atau Pangeran Jayanegara, putra Sultan Sena Zainudin (1753-1786) dari Keraton Kasepuhan. Bukan hanya itu, ayah Bagus Rangin juga dikenal sebagai tokoh agama yang memiliki banyak santri. Dari situlah Bagus Rangin mendapat pendidikan yang membuatnya punya jiwa sosial yang tinggi dan akhlak mulia.

Dianggap Sebagai Ratu Adil

Kesengsaraaan akibat penjajahan Belanda, mendorong rakyat untuk berharap datangnya pemimpin yang mampu membebaskan mereka dari penindasan. Pemimpin yang dinanti nantikan itu ternyata ada pada figur Ki Bagus Rangin, yang dekat dengan rakyat dan mempunyai ilmu agama yang tinggi. Karena itu pada masanya dia dianggap sebagai sosok yang tercerahkan dan ratu adil yang akan membawa perdamaian bagi rakyat.

Konon Memiliki Kesaktian

Ki Bagus Rangin juga punya cerita menarik yang berbau magis, dia dikenal sebagai sosok yang punya kesaktian. Kesaktian tersebut dia dapatkan dari para gurunya yang merupakan tokoh spiritual seperti Rama Banten dan Syekh Jatira. Karena itu juga Bagus Rangin memiliki banyak pengikut.

Pernah Mendeklarasikan Diri Sebagai Raja 

Ki Bagus Rangin dalam perjalanan hidupnya pernah menobatkan diri sebagai Raja Panca Tengah sebuah kerajaan yang berpusat di Bantarjati. Apa yang dilakukakannya bisa dipandang wajar dan bisa dipahami karena pada dasarnya ditujukan sebagai _balance of power_ mengingat kekuatan yang dihadapinya adalah kekuatan pemerintah kolonial Belanda yang dibantu Sultan Cirebon dan para sekutunya, yang meliputi Sumedang dan Karawang.

Cambuk Sebagai Senjata Andalan

Raden Bagus Rangin sebagai pimpinan perang santri yang termashur ternyata menggunakan cambuk sebagai senjata andalannya. Hal tersebut juga merupakan strategi perang Bagus Rangin yang membiasakan dirinya dan pasukan menggunakan alat-alat yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai senjata. Itu karena pedang yang digunakan dalam perang kedongdong hasil buatan pasukan Sultan Amir Sena Zaenudin jumlahnya terbatas.

Taktik Gerilya yang Membuat Belanda Kewalahan

Ki Bagus Rangin menerapkan strategi gerilya dengan memanfaatkan dukungan rakyat, jaringan pesantren, dan penguasaan medan. Contohnya memakai nama berbeda di daerah berbeda, mengubur senjata di dalam makam, sampai menggunakan lakon pertunjukan wayang kulit sebagai media untuk menyampaikan strategi perang. Taktik ini membuat pasukan kolonial berulang kali mengalami kesulitan menumpas perlawanan yang dipimpinnya, sehingga namanya dikenang sebagai salah satu tokoh perlawanan terbesar di kawasan Ciayumajakuning.

Sumber: Buku GEGER CIAYUMAJAKUNING (CIREBON-INDARAMAYU-MAJALENGKA-KUNINGAN) Mengungkap Jejak Perjuangan Ki Bagus Rangin di dalam Menentang Pemerintah Kolonial Belanda dan Inggis pada Abad ke-19 M

MBAH MUQOYYIM: ULAMA KERATON CIREBON YANG MEMILIH RAKYAT DARIPADA JABATAN


Ahli Agama Keraton Kanoman

Kiai Haji Muqoyyim bin Abdul Hadi atau biasa dikenal dengan nama Mbah Muqoyyim adalah seorang mufti (ahli agama) Keraton Kanoman Cirebon. Sebagai mufti, Mbah Muqoyyim punya peran yang sangat penting dalam lingkungan Kasultanan Kanoman, tugasnya sebagai mufti di antaranya: menjadi penasihat agama bagi sultan, mengawasi pelaksanaan syariat Islam di lingkungan Kasultanan, memberikan pandangan hukum Islam dalam urusan pemerintahan, dan membimbing kehidupan keagamaan masyarakat.

Lahir di Indramayu

Ulama yang dikenal sakti dan rendah hati ini konon dilahirkan di Desa Srengseng Krangkeng, Karang Ampel, Indramayu 1689. Dia diangkat menjadi Mufti Kesultanan Kanoman karena keilmuannya tentang islam yang tinggi. Dia juga sering mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi Syekh Yusuf Al Makasari, menantu Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah Banten sebelum masa pemerintahan Amangkurat I. Di tempat-tempat itu dia bertemu dan berdiskusi dengan pengganti atau murid-murid Syekh Yusuf. Dia menulis beberapa buku tentang fiqih, tauhid, dan tasawuf yang dikirim pada Sultan Kanoman agar dijadikan buku pegangan bagi para pembesar keraton dan rakyat Cirebon.

Tinggalkan Jabatan demi Mendidik Rakyat

Kondisi keraton yang mulai dikendalikan pihak kolonial Belanda dan sikap politik kooperatif para penguasa keraton pada saat itu membuat kaum agamawan memilih untuk keluar dari lingkungan keraton, salah satu yang memutuskan pergi dari lingkungan Kasultanan Kanoman adalah Mbah Muqoyyim. Yang kemudian mendirikan lembaga pendidikan islam yaitu pesantren. Pesantren pada saat itu juga menjadi poros perlawanan terhadap Belanda.

Mendirikan Pondok Pesantren Buntet Cirebon

Setelah keluar dari lingkungan keraton kanoman, Mbah Muqoyyim pertama kali mendirikan lembaga pendidikan pesantren di Dusun Kedung Malang Desa Buntet pada tahun 1723 dan yang kedua mendirikan pondok pesantren di Buntet pada tahun 1750. Sosoknya yang menunjukan tauladan yang baik dan memiliki pendirian anti kolonial membuat banyak orang berbondong-bondong ikut belajar agama di pondok tersebut.

Menjadi Incaran Pemerintah Kolonial Belanda  

Pesantren buntet yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Karena selain menjadi pusat menyebarkan agama islam, pesantren buntet juga menjadi sarana pengembangan masyarakat. Baik dari segi agama, moral, politik, ilmu pengetahuan, ekonomi dan pendidikan. Namun dirinya tetap tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Kolonial Belanda, sehingga Belanda melakukan penangkapan terhadap Mbah Muqoyyim dan menyerang Pesantren Buntet.

Terlibat Dalam Perang Kedongdong

Dalam catatan sejarah perang kedongdong yang terjadi pada periode 1806-1818 ternyata tidak lepas dari peran Mbah Muqoyyim. Sosok ulama yang konon memiliki banyak karomah ini disinyalir sebagai salah satu pencetus perang kedongdong bersama para pihak kesultanan Cirebon yang juga anti Kolonial Belanda. Mungkin hal ini juga yang mendasari perang kedongdong disebut juga sebagai perang santri, karena keterlibatan Mbah Muqoyyim dan Syekh Hasanuddin Ciwaringin beserta para santrinya.

Berpuasa Selama 12 Tahun

Mbah Muqoyyim selain aktif mengajar dan bergerilya dikenal juga sebagai tokoh ahli Tirakat (riyadhah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Menurut banyak sumber, beliau pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Niat puasa beliau dibagi menjadi empat bagian yaitu 3 tahun pertama ditujukan untuk keselamatan Buntet Pesantren, 3 tahun kedua untuk keselamatan anak cucunya, 3 tahun ketiga untuk keselamatan para santri dan pengikut setianya dan terakhir 3 tahun keempat untuk keselamatan dirinya. (demos)

Polresta Cirebon Sita 647 Botol Ilegal







Polresta Cirebon melancarkan Operasi Penyakit Masyarakat (Ops Pekat) secara maraton selama dua hari berturut-turut Senin - Rabu (24-26/8/2026). Dalam razia intensif yang menyasar berbagai wilayah rawan di Kabupaten Cirebon tersebut, tim opsnal berhasil menindak 11 pedagang ilegal dan menyita total 647 botol minuman keras (miras).

Operasi tersebut berhasil melucuti barang bukti berupa miras pabrikan dari berbagai merek serta miras tradisional Rangkaian penindakan disebar di sejumlah lokasi strategis, meliputi Kecamatan Ciwaringin, Gegesik, Arjawinangun, Depok, Susukan, hingga Kedawung.

Pada hari pertama operasi, Senin (24/8/2026), petugas menyisir wilayah Ciwaringin dan Gegesik dengan mengamankan 158 botol miras dari dua pedagang, di Desa Bringin dan di Desa Panunggul dengan barang bukti 118 botol miras pabrikan dan 10 botol ciu.

Penindakan berlanjut semakin masif pada hari kedua, Selasa (25/8/2026). Tim gabungan merazia sembilan titik pedagang ilegal dan menyita 303 botol miras yang terdiri dari 214 botol ciu dan 89 botol miras pabrikan. Adapun sembilan penjual yang ditindak berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Cirebon.

pada hari Rabu (26/8/2026) petugas berhasil menyita total 186 botol miras yang meliputi 79 botol miras pabrikan dari berbagai merek dan 107 botol miras tradisional jenis ciu serta arak bali dari enam pedagang di wilayah kabupaten Cirebon

Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa operasi penindakan maraton ini merupakan langkah preventif kepolisian untuk menutup ruang gerak peredaran alkohol ilegal yang menjadi pemicu utama gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. 

"Peredaran minuman keras tanpa izin adalah hulu dari berbagai tindak kejahatan jalanan, aksi premanisme, hingga bentrokan antar golongan. Polresta Cirebon tidak akan memberikan toleransi dan akan terus menggencarkan Razia Pekat di seluruh wilayah hukum Kabupaten Cirebon demi menjaga situasi tetap aman dan kondusif," tegasnya, Jumat (28/8/2026).

KIAI ABBAS BUNTET: DARI CIREBON KE SURABAYA, DI GARDA DEPAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN



Siapa Kiai Abbas Buntet?

KH. Abbas bin Abdul Jamil adalah ulama besar dari Buntet Pesantren, Cirebon. Ia merupakan putra KH. Abdul Jamil sesepuh Buntet Pesantren. Kiai Abbas adalah santri angkatan pertama KH. Hasyim Asy'ari bersama KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1899. Kiai Abbas bukan hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai salah satu tokoh yang andil dalam mendidik bangsa melalui pesantren dan terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh Penggerak Nasionalisme Cirebon

Kiai Abbas merupakan ulama yang tumbuh dan memimpin lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon. Dalam penelitian Rofii dan Sujati, Kiai Abbas disebut sebagai salah satu pimpinan pesantren terkemuka di Cirebon yang berperan sebagai penggerak nasionalisme di tingkat lokal. Bagi Kiai Abbas, pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Pesantren juga menjadi ruang untuk menanamkan kesadaran kebangsaan.

Pesantren Jadi Basis Perjuangan Umat

Di bawah kepemimpinan Kiai Abbas, Buntet Pesantren berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas perjuangan umat Islam di Cirebon. Kiai Abbas juga menjadikan pesantren Buntet sebagai pusat pengembangan NU tahap awal untuk wilayah Jawa Barat khususnya Cirebon. Ini yang kemudian diikuti oleh KH. Mas Abdurrahman (Menes Pandeglang Banten), KH. Junaidi (Jakarta), dan KH. Ruhiyat (Tasikmalaya). Atas dasar itulah maka pada 27 Agustus 1931 Buntet Pesantren menjadi lokasi Muktamar NU ke-6.

Perlawanan dimulai dari Lembaga Pendidikan

Pada tahun 1928, Kiai Abbas mendirikan Madrasah Abnaoul Wathan di Buntet Pesantren. Pendirian madrasah tersebut menjadi salah satu bentuk sikap Kiai Abbas terhadap kebijakan kolonial Belanda, khususnya Ordonantie Goeroe. Menariknya, pendidikan yang diberikan tidak hanya agama, ada pula pelajaran umum dan sejarah kebangsaan.

Tokoh Progresif Nahdlatul Ulama (NU)

Di bawah kepemimpinan Kiai Abbas, Buntet Pesantren berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas perjuangan umat Islam di Cirebon. Kiai Abbas juga aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU) dan memiliki posisi penting dalam jaringan ulama Jawa Barat. Pada masa pendudukan Jepang, ia menggunakan posisi sosial dan politiknya untuk memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa. Pesantren pun tidak hanya mencetak santri, tetapi juga membangun semangat kebangsaan.

Ulama Cirebon dalam Sejarah Perjuangan Indonesia

Kemerdekaan Indonesia ke 81 tahun ini merupakan hasil dari perjuangan panjang para pendiri bangsa. Banyak ulama yang turut berperan besar dalam gerakan perjuangan tersebut, di antaranya datang dari Cirebon, yaitu Kiai Abbas buntut, ulama multi disipliner yang turun langsung ke medan perang untuk mengusir penjajah dari negeri Indonesia.

Memimpin Santri dan Ulama dalam Pertempuran Surabaya

Walaupun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi kepentingan Belanda mengancam kedaulatan Republik Indonesia. Dalam situasi tersebut, Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu pemantik mobilisasi ulama dan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kiai Abbas termasuk ulama yang terlibat dalam Pertempuran Surabaya pada 10-25 November 1945, ia memimpin langsung kalangan ulama-santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah atas perintah Kiai Hasyim Asy'ari.

Dijuluki Singa dari Jawa Barat

Penelitian Baharsyah menemukan bahwa Kiai Abbas berperan dalam menggerakkan kekuatan rakyat dan berbagai milisi di Surabaya. Ia juga menerapkan strategi penyerangan yang menurut penelitian tersebut dilakukan menjelang waktu fajar. Artinya, peran Kiai Abbas bukan sekadar simbol. Ia memiliki fungsi sebagai pemimpin, penggerak massa, sekaligus ulama yang memberikan legitimasi moral bagi perjuangan mempertahankan Republik. Peran besarnya tersebut membuat Kiai Abbas dijuluki "Singa dari Jawa Barat" dari gurunya.

Kiai Abbas dan Warisan Perjuangannya

Perjuangan Kiai Abbas menunjukkan bahwa mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui medan perang. Pendidikan, pesantren, organisasi, kepemimpinan masyarakat, hingga perjuangan bersenjata menjadi bagian dari perjuangannya. Dari Buntet Pesantren, Cirebon, Kiai Abbas membangun kesadaran kebangsaan sebelum Indonesia merdeka dan kemudian turun langsung dalam revolusi mempertahankan kemerdekaan. Ia bukan sekadar kiai dari Cirebon. Ia adalah bagian dari sejarah perjuangan Indonesia. (demos)

Senin, 24 Agustus 2026

Ikut Meriahkan HUT Ke-81 RI, Warga RW 03 Kalijaga Adakan Lomba Permainan Rakyat dan Hiburan 


Kota Cirebon, Jendela Bangsa-AWDI ~ Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI) Tahun 2026. Warga RW 03 Kalijaga Kel.Kalijaga Kec.Harjamukti, Kota Cirebon mengadakan berbagai macam perlombaan permainan rakyat, mulai dari jalan santai untuk Warga se RW 03 Kalijaga, lomba permainan Anak-anak, Remaja, Dewasa dan ibu-ibu yang setiap tahun diadakan, Minggu 23 Agustus 2026 di Halaman Balai Pertemuan Masyarakat RW.03 Kalijaga Kelurahan Kalijaga Kecamatan Harjamukti.

Perlombaan ini diselenggarakan oleh Pemuda-pemudi RW 03 Kalijaga yang sangat antusias dari beberapa hari sebelumnya sudah bekerja keras mempersiapkan segala perlengkapan.

Solidaritas warga RW 03 Kalijaga ini terlihat dari kehadiran warga yang sudah memadati lokasi sekitar pukul enam pagi dan bersiap sedia untuk mengikuti acara jalan santai dan beberapa perlombaan lainnya.

Kegiatan yang diselenggarakan Pemuda-pemudi ini sangat didukung baik oleh Ketua RW 03 Kalijaga Saemari.

Saemari mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan Pemuda-pemuda RW 03 Kalijaga ini, sehingga kegiatan ini berjalan dengan baik.

"Terima kasih kepada pihak penyelenggara, penasehat, donatur dan masyarakat setempat karena bersemangat atas partisipasinya dalam mengikuti kegiatan ini," ucapnya.

Lanjut Saemari, kegiatan ini merupakan kegiatan yang rutin setiap tahun diadakan. Akan tetapi untuk peringatan HUT ke - 81 RI Tahun 2026 ini agak sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya baik dari segi lokasi, besarnya hadiah dan antusias warga, tambah Saemari.

Ketua RW 03 Kalijaga Saemari juga berharap kedepannya Pemuda-pemudi dan warga akan terus saling bahu membahu, meningkatkan silaturahmi, dan bekerja sama serta menjaga kekompakan, sehingga apapun kegiatan yang dilakukan baik bersifat religius , kemasyarakatan maupun kegiatan lainnya akan selalu sukses dan lancar, harap Saemari.

selain untuk memeriahkan HUT ke-79 RI yang merupakan pembangkit rasa nasionalisme pemuda-pemudi dan warga RW 03 Kalijaga, kegiatan ini juga membuat hubungan silaturahmi antara warga dan pemuda-pemudi semakin dekat dan erat, ucapnya.

"Berbagai macam kegiatan ini tidak luput dari partisipasi warga RW 03 Kalijaga yang sangat antusias mempersiapkan perlengkapannya, terlebih lagi bagi pemuda-pemudi, hampir satu bulan penuh bekerja keras agar kegiatan ini sukses berjalan dengan lancar, selain membangkitkan rasa nasionalisme cinta tanah air, kegiatan ini juga membuat hubungan silaturahmi antara warga dan pemuda-pemudi semakin dekat dan erat," kata Saemari.

Kemudian warga mulai melakukan kegiatan jalan santai dari mulai sampai selesai dipandu oleh panitia pelaksana, lalu dilanjutkan dengan permainan anak dan remaja, juga hiburan hingga waktu istirahat siang, ada juga lomba bagi kaum ibu-ibu serta permainan rakyat lainnya dilaksanakan pada sore harinya hingga selesai.

"Sekali lagi kami ucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak-bapak, ibu-ibu, Abang-abang dan Kakak-kakak serta adik-adik Warga RW 03 Kalijaga yang ikut meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang kami selenggarakan ini, sehingga kegiatan ini berjalan dengan baik," pungkas Saemari Ketua RW 03 Kalijaga kepada awak media ini. (Agus noban)

Minggu, 23 Agustus 2026

Peringatan HUT ke-81 RI di RT 03 RW 01 Argapura Berlangsung Khidmat dan Meriah





CIREBON. jendelabangsa-awdi.com, – Warga RT 03/RW 01 Desa Argapura, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, sukses menyelenggarakan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada Sabtu (22/8/2026). Rangkaian acara yang diisi dengan pembagian hadiah lomba hingga pentas seni ini berlangsung khidmat, tertib, dan kondusif.

Acara yang diprakarsai oleh panitia pelaksana di bawah kepemimpinan Usup selaku ketua panitia, Lusi Umaya sebagai sekretaris, serta Anggun sebagai bendahara beserta jajaran panitia lainnya ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus hiburan bagi warga setempat. Koordinasi dan keamanan lapangan dikawal langsung oleh Nita Wijaya bersama Tarjo selaku penanggung jawab lokasi.

Kemeriahan kegiatan ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat setempat, di antaranya Sekretaris RW 01, Ambon, serta Ketua RT 03, Asep Maulana, yang turut memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya acara.

Rangkaian Acara Puncak

Sesi Acara Detail

Kegiatan Pembukaan & Pembagian Hadiah, Penyerahan hadiah lomba semarak 17 Agustus kepada para pemenang,

Seni Keagamaan Penampilan seni-seni hadroh yang menambah kekhidmatan suasana,

Hiburan Rakyat Pertunjukan hiburan panggung untuk mempererat kebersamaan warga.

Turut hadir memberikan dukungan penuh dalam kegiatan kebersamaan warga ini, Ketua DPD AWDI Cirebon Raya sekaligus Pemimpin Redaksi Jendelabangsa-AWDI.

Ketua Panitia, Usup, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh panitia dan warga yang telah berpartisipasi aktif dalam menyukseskan kegiatan ini. Melalui semangat kebersamaan ini, diharapkan rasa nasionalisme dan gotong royong antarwarga RT 03 RW 01 Argasunya semakin kuat.

(NADI)

Polresta Cirebon Amankan Tiga Pelaku Tawuran Bersenjata Tajam yang Viral di Media Sosial



Polresta Cirebon melalui Tim TEKAB 852 Sat Reskrim bersama Unit Reskrim Polsek Klangenan mengamankan tiga orang yang diduga terlibat dalam aksi tawuran menggunakan senjata tajam yang sebelumnya viral di media sosial.

Penanganan perkara tersebut dilakukan setelah adanya laporan masyarakat terkait video aksi tawuran yang terjadi di wilayah hukum Polresta Cirebon. Tim TEKAB 852 yang dipimpin Kanit TEKAB IPDA Roni Cainudin, S.H., bersama Unit Reskrim Polsek Klangenan kemudian melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku yang terlibat.

Peristiwa tawuran diketahui terjadi pada Senin, 20 Juli 2026 sekitar pukul 14.00 WIB di Jalan Raya Arjawinangun-Palimanan, tepatnya di wilayah Desa Tegalkarang, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon. Tawuran tersebut melibatkan kelompok pelajar SMK di wilayah Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon yang diduga terlibat bentrokan dengan kelompok pelajar salah satu SMK di Wilayah Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon hingga mengakibatkan sejumlah korban mengalami luka-luka.

Dari hasil penyelidikan, petugas mengamankan tiga orang yang diduga memiliki peran dalam aksi tersebut. Mereka masing-masing berinisial DS (18), WA (17), dan H (15).

DS diduga berperan sebagai videographer saat aksi tawuran berlangsung sekaligus admin akun media sosial yang mengunggah rekaman tawuran. Sementara WA dan H diduga membawa senjata tajam jenis celurit dalam aksi tersebut.

Dalam pengungkapan perkara ini, petugas turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu unit sepeda motor Honda Scoopy warna hijau yang digunakan untuk merekam kejadian serta tiga unit telepon seluler berbagai merek.

Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan tindakan tegas terhadap aksi tawuran, khususnya yang melibatkan pelajar dan penggunaan senjata tajam.

"Polresta Cirebon tidak akan memberikan ruang bagi aksi tawuran yang meresahkan masyarakat. Terlebih apabila dalam aksinya menggunakan senjata tajam karena dapat membahayakan keselamatan orang lain dan berpotensi menimbulkan korban jiwa," ujar Kombes Pol. Imara Utama.

Ia juga mengimbau para pelajar agar tidak mudah terprovokasi maupun ikut dalam kelompok yang berpotensi melakukan tawuran. Menurutnya, penyelesaian persoalan antarpelajar harus dilakukan melalui komunikasi dan cara-cara yang positif, bukan dengan kekerasan.

Saat ini, ketiga orang tersebut beserta barang bukti telah diamankan di Mapolresta Cirebon untuk menjalani pemeriksaan dan proses penyidikan lebih lanjut. Penyidik juga masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, mendalami keterlibatan pihak lain, serta mencari barang bukti tambahan.

Polresta Cirebon mengajak masyarakat, khususnya para orang tua dan pihak sekolah, untuk bersama-sama mengawasi aktivitas anak-anak dan pelajar guna mencegah terjadinya aksi tawuran maupun tindak pidana lainnya.

Masyarakat yang mengetahui adanya potensi gangguan kamtibmas maupun aksi tawuran dapat segera melaporkannya melalui hotline 110 atau kantor kepolisian terdekat agar dapat ditindaklanjuti dengan cepat.

Rabu, 19 Agustus 2026

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polresta Cirebon Distribusikan 6.000 Liter Air Bersih ke Desa Slangit









CIREBON – Polresta Cirebon menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan dengan menyalurkan bantuan 6.000 liter air bersih kepada warga Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Rabu (19/8/2026).

Bakti sosial tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Kegiatan dipimpin langsung Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., dan diikuti jajaran personel Polresta Cirebon bersama unsur Forkopimcam Klangenan serta pemerintah desa setempat.

Untuk mendistribusikan bantuan, Polresta Cirebon mengerahkan kendaraan Armoured Water Cannon (AWC) yang digunakan untuk mengangkut dan menyalurkan air bersih kepada masyarakat.

Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama mengatakan, penyaluran air bersih tersebut merupakan bentuk kepedulian dan kehadiran Polri di tengah masyarakat, khususnya bagi warga yang sedang mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar akibat musim kemarau.

“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian Polresta Cirebon kepada masyarakat. Kami berharap air bersih yang disalurkan dapat membantu memenuhi kebutuhan warga yang terdampak kekeringan,” ujar Kombes Pol. Imara Utama.

Selain air bersih, Kapolresta Cirebon bersama jajaran juga membagikan makanan dan susu kepada masyarakat. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya Polri untuk memberikan perhatian kepada warga yang membutuhkan.

Warga Desa Slangit menyambut antusias penyaluran bantuan tersebut. Kesulitan memperoleh air bersih selama musim kemarau membuat bantuan yang diberikan Polresta Cirebon dinilai sangat berarti bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kabag Ops Kompol Sutarja, S.H., M.H., Kasat Samapta Kompol Endang Sujana, S.H., M.M., Kasat Lantas AKP Yudha Satyo Rahardjo, S.T.K., S.I.K., M.H., Kasat Polair Kompol Akmadi, S.H., M.H., Kapolsek Klangenan Iptu Diding, S.H., M.H., Kasi Humas Ipda Toga Marolop, S.Sos., CPHR., Kanit Provos Sipropam Ipda Feri, Camat Klangenan H. Yono Purnomo, S.Sos., M.Si., Kuwu Desa Slangit Apendi, serta personel Polresta Cirebon.

Kapolresta Cirebon menegaskan bahwa kegiatan sosial tersebut merupakan bagian dari komitmen Polri untuk terus hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami manfaatkan untuk berbagi dan membantu masyarakat. Semoga bantuan ini dapat meringankan kebutuhan warga serta semakin mempererat hubungan dan kemitraan antara Polri dengan masyarakat,” katanya.

Penyaluran air bersih tersebut berlangsung tertib, lancar dan aman. Polresta Cirebon berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai wujud nyata semangat gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Perkuat dan Dukung Program ketahanan pangan di Desa Bungko Bumdes SOKAMINA JAYA Budidaya ikan Nila 



Kab.Cirebon, Jendela Bangsa-AWDI || Berbagai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Indonesia, seperti BUMDes SOKAMINA JAYA Desa Bungko Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, sukses mengembangkan budi daya ikan nila untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan asli desa

Ikan nila adalah salah satu ikan budidaya yang paling populer di dunia. Ikan ini memiliki pertumbuhan yang cepat, mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda & memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.

Karena itulah BUMDes SOKAMINA JAYA Desa Bungko memilih budidaya ikan nila sebagai program ketahanan pangan karena dinilai bisa menjamin ketersediaan, keterjangkauan & keamanan pangan masyarakat. Selain itu, program ini juga menciptakan peluang ekonomi baru dan diharapkan bisa memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Pemerintah Desa Bungko, Kecamatan Kapetakan, bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) SOKAMINA JAYA mengambil langkah strategis dalam pengembangan sektor perikanan.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata upaya desa untuk meningkatkan kemandirian ekonomi melalui optimalisasi potensi sumber daya alam secara berkelanjutan.

Kuwu Bungko, Jhoni Iskandar, menegaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas usaha desa, tetapi juga diorientasikan untuk membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

“Kami ingin memaksimalkan potensi yang ada. Melalui BUMDes, kami berharap unit usaha ini menjadi motor penggerak ekonomi yang mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Kuwu Jhoni.

Lebih lanjut, ia berharap budidaya ikan nila ini dapat berjalan maksimal dan menjadi salah satu unit usaha unggulan yang memiliki daya saing di masa depan.

Di tempat yang sama, Direktur BUMDes, Toid, SH. menyampaikan apresiasi dan komitmennya. Ia menjamin seluruh proses pengelolaan, mulai dari pemeliharaan hingga panen, akan dilakukan dengan manajemen yang baik dan profesional.

“Dukungan sarana dan pakan yang diberikan ini sangat berarti. Ini menjadi modal penting bagi kami untuk memastikan pertumbuhan ikan berjalan sehat, berkualitas, dan memberikan hasil panen yang maksimal,” ujar Toid.

Dengan adanya program ini, Pemerintah Desa Bungko terus berkomitmen mewujudkan desa yang mandiri, produktif, dan sejahtera melalui pengembangan usaha-usaha yang berbasis potensi lokal.

(Agus & Nono)

Senin, 17 Agustus 2026

Polresta Cirebon Gelar Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Kobarkan Semangat Pengabdian





Polresta Cirebon menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Upacara berlangsung khidmat di Lapangan Apel Mapolresta Cirebon, Jalan Raden Dewi Sartika Nomor 1, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.

Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sementara Perwira Upacara dijabat Kasat Polair Polresta Cirebon Kompol Akmadi, S.H., M.M., dan Komandan Upacara dijabat Kanit Pam Obvit Sat Samapta Polresta Cirebon AKP Wahyu Kurniawan Suprapto, S.H.

Upacara tersebut diikuti para Pejabat Utama (PJU) dan personel Polresta Cirebon dari berbagai satuan fungsi. Pasukan upacara terdiri dari peleton Pama, gabungan staf Bag, Sat dan Sie, Polwan, Sat Samapta, Sat Lantas, gabungan Sat Reskrim, Sat Resnarkoba dan Sat Tahti, Sat Intelkam, serta ASN Polresta Cirebon.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Momentum tersebut menjadi sarana untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dan pengabdian dalam menjalankan tugas.

Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama mengatakan, semangat kemerdekaan harus diwujudkan melalui pengabdian dan kerja nyata, khususnya dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Peringatan Hari Kemerdekaan menjadi momentum bagi kita untuk terus meningkatkan semangat pengabdian. Sebagai anggota Polri, kita harus mampu mengisi kemerdekaan dengan menjaga keamanan, memberikan pelayanan terbaik, serta hadir di tengah masyarakat,” ujar Kombes Pol. Imara Utama.

Menurutnya, nilai-nilai perjuangan para pahlawan harus menjadi inspirasi bagi seluruh personel Polri dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, profesional dan humanis.

“Kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan harus kita jaga bersama. Mari kita perkuat persatuan, menjaga kondusivitas wilayah, dan terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.

Pelaksanaan upacara berlangsung dengan tertib dan khidmat. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar, dengan situasi di wilayah hukum Polresta Cirebon tetap kondusif.

Sabtu, 15 Agustus 2026

Apel Kebangsaan Jaga Rawat Jawa Barat, Kapolresta Cirebon Ajak Seluruh Elemen Bersatu Jaga dan Rawat Kabupaten Cirebon







CIREBON – Polresta Cirebon menggelar Apel Kebangsaan “Jaga Rawat Jawa Barat untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” Tahun 2026 di Lapangan Apel Mapolresta Cirebon, Jalan Raden Dewi Sartika No. 1, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (14/8/2026) sore.

Apel tersebut menjadi momentum memperkuat persatuan dan kesatuan sekaligus membangun komitmen bersama antara pemerintah, TNI-Polri dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keamanan serta kondusivitas Kabupaten Cirebon.

Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., bertindak sebagai pimpinan apel. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Cirebon Drs. H. Imron, M.Ag., Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Dr. Sophi Zulfia, S.H., M.H., Kasdim 0620 Kabupaten Cirebon Mayor Arm Sulkhan, Ketua FKUB Kabupaten Cirebon KH. Wawan Arwani Amin, Ketua Dai Kamtibmas Polresta Cirebon KH. M. Arif Suhartono, Rektor UMC Cirebon Arif Nurudin, S.T., M.T., Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH. Aziz Hakim Syaerozie, perwakilan Danlanal Cirebon, para pejabat utama Polresta Cirebon, para Kapolsek jajaran, serta unsur instansi terkait.

Apel juga diikuti personel gabungan dan berbagai komponen masyarakat, di antaranya jajaran Polri, Kodim 0620 Kabupaten Cirebon, Satpol PP, Satpam Red Guard Cirebon, KBP3 Polresta Cirebon, Senkom Mitra Polri, Banser, Pemuda Muhammadiyah, mahasiswa UMC, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, seniman dan budayawan, komunitas ojek online, komunitas Motor Tiger Kabupaten Cirebon, aliansi buruh, gabungan Kuwu, kelompok tani, serta Pramuka Saka Bhayangkara.

Dalam kegiatan tersebut dilaksanakan penandatanganan dan deklarasi kebangsaan sebagai bentuk komitmen seluruh elemen untuk menjaga persatuan dan kesatuan, memperkuat sinergitas, serta mewujudkan Kabupaten Cirebon yang aman, damai dan kondusif.

Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama mengatakan, Apel Kebangsaan tersebut merupakan gagasan Kapolda Jawa Barat yang dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah Jawa Barat.

“Apel Kebangsaan ini merupakan ide dari Bapak Kapolda Jawa Barat dan dilaksanakan serentak pada sore ini di seluruh Jawa Barat. Bapak Kapolda Jawa Barat memberikan jargon atau tagline yaitu Apel Kebangsaan Jaga Rawat Jawa Barat,” ujar Kombes Pol. Imara Utama.

Ia menegaskan, keamanan dan kenyamanan Kabupaten Cirebon merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat.

“Kami semua di sini bersama Pak Bupati, kemudian Ibu Ketua Dewan, Pak Dandim, kemudian dari TNI lainnya, kami semua bersatu padu, berkomitmen dengan seluruh masyarakat dan elemen yang ada untuk menjaga Kabupaten Cirebon tetap aman dan merawat Kabupaten Cirebon sehingga warga Kabupaten Cirebon merasa nyaman tinggal di Kabupaten Cirebon,” jelasnya.

Kapolresta menambahkan, seluruh elemen masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

“Apel Kebangsaan ini melibatkan seluruh komponen masyarakat, baik itu dari ormas, kepemudaan, mahasiswa, kemudian juga ojek online, semuanya wajib memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat Kabupaten Cirebon ini,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Cirebon Drs. H. Imron, M.Ag., mengapresiasi pelaksanaan Apel Kebangsaan yang digelar Polresta Cirebon. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kebersamaan seluruh unsur dalam menjaga keamanan Kabupaten Cirebon.

“Kami sebagai Pemerintah Kabupaten Cirebon dan masyarakat Kabupaten Cirebon mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Kapolresta, Pak Imara, yang telah mengadakan kegiatan Apel Kebangsaan ini. Mudah-mudahan Cirebon aman,” ujar Imron.

Bupati juga mengajak generasi muda dan seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan, kesatuan dan toleransi.

“Kami berharap kepada anak-anak muda dan masyarakat Kabupaten Cirebon, jaga persatuan dan kesatuan, toleransinya kita jaga, rawat Kabupaten Cirebon,” katanya.

Ia menambahkan, semangat merawat kebersamaan merupakan bagian penting dari nilai sejarah Cirebon.

“Cirebon ini adalah dulu yang digagas oleh Sunan Syekh Syarif Hidayatullah, yaitu merawat dan memelihara kebersamaan untuk pembangunan Kabupaten Cirebon,” ungkapnya.

Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Dr. Sophi Zulfia, S.H., M.H., mengatakan bahwa Apel Kebangsaan memiliki makna penting dalam memperkuat sinergitas seluruh unsur Forkopimda dan masyarakat.

“Makna dari Apel Kebangsaan ini adalah kita selalu bersinergi antara seluruh unsur Forkopimda dan juga seluruh elemen masyarakat. Mudah-mudahan kita bisa bersatu padu untuk menjaga dan merawat Kabupaten Cirebon,” ujarnya.

Selain itu, dalam Apel Kebangsaan disampaikan pula pernyataan kebangsaan oleh Kapolresta Cirebon, Bupati Cirebon dan Dandim 0620 Kabupaten Cirebon. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keamanan, persatuan dan kesatuan serta memperkuat sinergitas antara pemerintah, TNI-Polri dan seluruh komponen masyarakat.

Kapolresta Cirebon menyatakan komitmen Polresta Cirebon untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan mengedepankan pelayanan, perlindungan, penegakan hukum dan pencegahan gangguan kamtibmas.

Bupati Cirebon menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten Cirebon mendukung Polri dalam memelihara kamtibmas melalui pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Dandim 0620 Kabupaten Cirebon menyatakan komitmennya mendukung Polri dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat sesuai tugas dan fungsi serta ketentuan peraturan perundang-undangan.

Apel Kebangsaan tersebut dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting Polda Jawa Barat dan diikuti seluruh Polres jajaran Polda Jawa Barat sebagai bentuk komitmen bersama menjaga persatuan, keamanan dan kondusivitas wilayah Jawa Barat.

Kapolresta Cirebon berharap semangat “Jaga Rawat Jawa Barat” dapat terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui toleransi, gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Dengan kebersamaan seluruh elemen masyarakat, mari kita jaga dan rawat Kabupaten Cirebon agar tetap aman, damai, tertib dan kondusif,” pungkasnya.

Jumat, 14 Agustus 2026

Presiden Prabowo Resmikan Ribuan Jembatan dan Sumber Air Bersih Hasil Karya TNI-Polri 


CIREBON, JENDELA BANGSA - AWDI — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan sebanyak 3.395 jembatan yang dibangun oleh kolaborasi TNI-Polri serta 3.000 titik sumber air bersih milik TNI Angkatan Darat (AD) pada Kamis (13/8/2026). Peresmian secara maraton tersebut dipusatkan di Istana Merdeka, Jakarta.

Dalam acara tersebut, Presiden didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Peresmian ini juga diikuti secara virtual oleh para pimpinan institusi dari lokasi terpisah. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengikuti jalannya acara dari Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengikuti rangkaian peresmian dari Kabupaten Lebak, Banten.

Bagi Presiden Prabowo, pembangunan infrastruktur ini bukan sekadar pembangunan fisik semata, melainkan bentuk nyata pengabdian dan kehadiran TNI-Polri yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

Dampak Luas Pembangunan TNI AD dan Polri 

TNI AD melaporkan telah mengerjakan pembangunan di 3.008 titik jembatan, dengan rincian:

2.500 jembatan telah selesai terbangun. 508 jembatan masih dalam proses penyelesaian, termasuk 798 titik di wilayah terdampak bencana. 

Pembangunan ini memberikan dampak signifikan terhadap aksesibilitas warga. Tercatat, 9.008 sekolah kini semakin mudah diakses, 7.807 desa saling terhubung, serta akses menuju 4.502 fasilitas ekonomi semakin terbuka. Diperkirakan sekitar 4,5 juta jiwa telah merasakan manfaat langsung dari program ini.

Di sisi lain, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) turut membangun dan merivitalisasi 895 Jembatan Merah Putih Presisi yang tersebar di 30 Polda. Dari jumlah tersebut:

874 jembatan telah rampung dikerjakan. Total panjang jembatan mencapai 19,2 kilometer. Infrastruktur ini berhasil menghubungkan 1.314 desa dan memberi manfaat bagi kurang lebih 2 juta warga. TNI-Polri Lahir dari Rakyat 

Dalam amanatnya, Presiden menegaskan bahwa TNI dan Polri merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat.

"TNI adalah tentara rakyat dan Polri adalah polisi rakyat—lahir dari rakyat, berjuang bersama rakyat, memberikan yang terbaik untuk rakyat, dan pada akhirnya kembali kepada rakyat," tegas Presiden.

Presiden menambahkan bahwa hakikat pengabdian tidak hanya sebatas menjaga dan melindungi keamanan negara, tetapi juga hadir secara nyata, bekerja keras, serta membuka jalan bagi taraf kehidupan masyarakat yang lebih baik.

(ENJEN.S / Jendela Bangsa)



Kamis, 13 Agustus 2026

Polresta Cirebon Ringkus Tiga Pengedar dan Menyita Lebih Dari 6.900 Butir Obat Keras Ilegal





Polresta Cirebon kembali tunjukan ketegasannya dalam memberantas peredaran Obat Keras Ilegal di wilayah hukum Kabupaten Cirebon. Dalam operasi maraton dan pengembangan kilat yang dilancarkan pada Senin, (10/8/2026), petugas berhasil menggulung tiga pengedar obat keras ilegal (OK) di wilayah Kecamatan Arjawinangun dan Kecamatan Susukan, serta menyita total 6.964 butir OK.

​Penindakan diawali dari penggerebekan di wilayah Kecamatan Arjawinangun, pada pukul 13.30 WIB. Petugas membekuk tersangka T (35), Saat penggeledahan di kediamannya, polisi menemukan puluhan Tramadol, dan Trihexyphenidyl, serta uang sisa hasil penjualan, HP dan tas selempang Dari hasil pemeriksaan,(T ) diperoleh keterangan pasokan obat tersebut dari seorang berinisial ( S ) yang kini Masih Dalam Pengejaran

​Tak berhenti di situ, pada pukul 15.00 WIB petugas bergerak ke sebuah bengkel sepeda motor di Jalan Raya Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Petugas meringkus tersangka MF (27) dan kembali menyita puluhan barang bukti Tramadol sisa penjualan, uang tunai , dompet, serta HP.

Saat diinterogasi, ( MF ) menjelaskan mendapatkan barang haram tersebut dari seorang pemasok besar di wilayah Susukan berinisial ( A ). Merespons keterangan ( MF ) , petugas melancarkan pengembangan kilat ke lokasi sasaran. Tepat pukul 18.00 WIB, petugas menggerebek rumah tersangka A (42) di Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon. 

Dari penggeledahan di rumah A, petugas membongkar gudang penyimpanan obat berkapasitas besar dan menyita barang bukti fantastis sebanyak 4.820 butir Tramadol dan 2.037 butir Trihexyphenidyl yang disembunyikan di dalam dua buah tas ransel. Tersangka A membeberkan bahwa ribuan butir obat keras tersebut diperoleh dari seorang bandar berinisial A yang kini tengah diburu petugas Jajaran Satnarkoba Polresta Cirebon.

​Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pengungkapan rantai peredaran obat keras ilegal ini merupakan komitmen nyata Polresta Cirebon dalam memutus rantai pasokan obat terlarang yang menyasar masyarakat dan generasi muda. 

"Operasi serentak dan pengembangan terukur ini membuktikan bahwa Polresta Cirebon tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi para pelaku peredaran obat keras tanpa ilegal. Kami akan terus memburu para penyuplai dan bandar di atasnya hingga ke akar-akarnya demi menjaga kondusivitas wilayah Kabupaten Cirebon," tegas Kombes Pol. Imara Utama.

​Saat ini ketiga tersangka beserta barang bukti sebanyak 4.893 butir Tramadol, 2.071 butir Trihexyphenidyl, uang hasil penjualan, serta peralatan komunikasi telah diamankan di Mapolresta Cirebon. 

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 435 dan/atau Pasal 436 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan sebagaimana telah diubah dalam UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.