Tokoh Utama Perang Santri
Nama Bagus Rangin tak bisa dipisahkan dari peristiwa Perang Santri atau Perang Kedongdong yang berlangsung pada 1802 hingga 1818. Ia memimpin ribuan rakyat, santri, ulama, dan petani melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan bahkan hingga Subang dan Karawang. Perlawanan ini bahkan terjadi lebih dari dua dekade sebelum meletusnya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.
Lahir di Majalengka
Walaupun memimpin perang di Cirebon, Bagus Rangin ternyata lahir di Majalengka. Berdasarkan Babad Dermayu, Bagus Rangin lahir di Rajagaluh, namun versi lain mengatakan Bagus Rangin lahir di Bantarjati, Kertajati dengan nama Pangeran Atas Angin atau Pangeran Bagus Rarangin. Ki Bagus Rangin juga mempunyai tiga orang saudara. Kakaknya bernama Bagus Jabin dan kedua adiknya Bagus Salimar, dan Bagus Serit yang turut terlibat juga dalam perang kedongdong.
Berdarah Bangsawan Kasultanan Kasepuhan Cirebon
Ki Bagus Rangin atau Pangeran Atas Angin merupakan anak dari Bagus Sentayem atau Ki Bagus Tenom/Teyom yang sebenarnya bernama Pangeran Suryadiningrat, keturunan dari Syekh Idrus atau Pangeran Jayanegara, putra Sultan Sena Zainudin (1753-1786) dari Keraton Kasepuhan. Bukan hanya itu, ayah Bagus Rangin juga dikenal sebagai tokoh agama yang memiliki banyak santri. Dari situlah Bagus Rangin mendapat pendidikan yang membuatnya punya jiwa sosial yang tinggi dan akhlak mulia.
Dianggap Sebagai Ratu Adil
Kesengsaraaan akibat penjajahan Belanda, mendorong rakyat untuk berharap datangnya pemimpin yang mampu membebaskan mereka dari penindasan. Pemimpin yang dinanti nantikan itu ternyata ada pada figur Ki Bagus Rangin, yang dekat dengan rakyat dan mempunyai ilmu agama yang tinggi. Karena itu pada masanya dia dianggap sebagai sosok yang tercerahkan dan ratu adil yang akan membawa perdamaian bagi rakyat.
Konon Memiliki Kesaktian
Ki Bagus Rangin juga punya cerita menarik yang berbau magis, dia dikenal sebagai sosok yang punya kesaktian. Kesaktian tersebut dia dapatkan dari para gurunya yang merupakan tokoh spiritual seperti Rama Banten dan Syekh Jatira. Karena itu juga Bagus Rangin memiliki banyak pengikut.
Pernah Mendeklarasikan Diri Sebagai Raja
Ki Bagus Rangin dalam perjalanan hidupnya pernah menobatkan diri sebagai Raja Panca Tengah sebuah kerajaan yang berpusat di Bantarjati. Apa yang dilakukakannya bisa dipandang wajar dan bisa dipahami karena pada dasarnya ditujukan sebagai _balance of power_ mengingat kekuatan yang dihadapinya adalah kekuatan pemerintah kolonial Belanda yang dibantu Sultan Cirebon dan para sekutunya, yang meliputi Sumedang dan Karawang.
Cambuk Sebagai Senjata Andalan
Raden Bagus Rangin sebagai pimpinan perang santri yang termashur ternyata menggunakan cambuk sebagai senjata andalannya. Hal tersebut juga merupakan strategi perang Bagus Rangin yang membiasakan dirinya dan pasukan menggunakan alat-alat yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai senjata. Itu karena pedang yang digunakan dalam perang kedongdong hasil buatan pasukan Sultan Amir Sena Zaenudin jumlahnya terbatas.
Taktik Gerilya yang Membuat Belanda Kewalahan
Ki Bagus Rangin menerapkan strategi gerilya dengan memanfaatkan dukungan rakyat, jaringan pesantren, dan penguasaan medan. Contohnya memakai nama berbeda di daerah berbeda, mengubur senjata di dalam makam, sampai menggunakan lakon pertunjukan wayang kulit sebagai media untuk menyampaikan strategi perang. Taktik ini membuat pasukan kolonial berulang kali mengalami kesulitan menumpas perlawanan yang dipimpinnya, sehingga namanya dikenang sebagai salah satu tokoh perlawanan terbesar di kawasan Ciayumajakuning.
Sumber: Buku GEGER CIAYUMAJAKUNING (CIREBON-INDARAMAYU-MAJALENGKA-KUNINGAN) Mengungkap Jejak Perjuangan Ki Bagus Rangin di dalam Menentang Pemerintah Kolonial Belanda dan Inggis pada Abad ke-19 M










































