Jumat, 28 Agustus 2026

MBAH MUQOYYIM: ULAMA KERATON CIREBON YANG MEMILIH RAKYAT DARIPADA JABATAN


Ahli Agama Keraton Kanoman

Kiai Haji Muqoyyim bin Abdul Hadi atau biasa dikenal dengan nama Mbah Muqoyyim adalah seorang mufti (ahli agama) Keraton Kanoman Cirebon. Sebagai mufti, Mbah Muqoyyim punya peran yang sangat penting dalam lingkungan Kasultanan Kanoman, tugasnya sebagai mufti di antaranya: menjadi penasihat agama bagi sultan, mengawasi pelaksanaan syariat Islam di lingkungan Kasultanan, memberikan pandangan hukum Islam dalam urusan pemerintahan, dan membimbing kehidupan keagamaan masyarakat.

Lahir di Indramayu

Ulama yang dikenal sakti dan rendah hati ini konon dilahirkan di Desa Srengseng Krangkeng, Karang Ampel, Indramayu 1689. Dia diangkat menjadi Mufti Kesultanan Kanoman karena keilmuannya tentang islam yang tinggi. Dia juga sering mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi Syekh Yusuf Al Makasari, menantu Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah Banten sebelum masa pemerintahan Amangkurat I. Di tempat-tempat itu dia bertemu dan berdiskusi dengan pengganti atau murid-murid Syekh Yusuf. Dia menulis beberapa buku tentang fiqih, tauhid, dan tasawuf yang dikirim pada Sultan Kanoman agar dijadikan buku pegangan bagi para pembesar keraton dan rakyat Cirebon.

Tinggalkan Jabatan demi Mendidik Rakyat

Kondisi keraton yang mulai dikendalikan pihak kolonial Belanda dan sikap politik kooperatif para penguasa keraton pada saat itu membuat kaum agamawan memilih untuk keluar dari lingkungan keraton, salah satu yang memutuskan pergi dari lingkungan Kasultanan Kanoman adalah Mbah Muqoyyim. Yang kemudian mendirikan lembaga pendidikan islam yaitu pesantren. Pesantren pada saat itu juga menjadi poros perlawanan terhadap Belanda.

Mendirikan Pondok Pesantren Buntet Cirebon

Setelah keluar dari lingkungan keraton kanoman, Mbah Muqoyyim pertama kali mendirikan lembaga pendidikan pesantren di Dusun Kedung Malang Desa Buntet pada tahun 1723 dan yang kedua mendirikan pondok pesantren di Buntet pada tahun 1750. Sosoknya yang menunjukan tauladan yang baik dan memiliki pendirian anti kolonial membuat banyak orang berbondong-bondong ikut belajar agama di pondok tersebut.

Menjadi Incaran Pemerintah Kolonial Belanda  

Pesantren buntet yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Karena selain menjadi pusat menyebarkan agama islam, pesantren buntet juga menjadi sarana pengembangan masyarakat. Baik dari segi agama, moral, politik, ilmu pengetahuan, ekonomi dan pendidikan. Namun dirinya tetap tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Kolonial Belanda, sehingga Belanda melakukan penangkapan terhadap Mbah Muqoyyim dan menyerang Pesantren Buntet.

Terlibat Dalam Perang Kedongdong

Dalam catatan sejarah perang kedongdong yang terjadi pada periode 1806-1818 ternyata tidak lepas dari peran Mbah Muqoyyim. Sosok ulama yang konon memiliki banyak karomah ini disinyalir sebagai salah satu pencetus perang kedongdong bersama para pihak kesultanan Cirebon yang juga anti Kolonial Belanda. Mungkin hal ini juga yang mendasari perang kedongdong disebut juga sebagai perang santri, karena keterlibatan Mbah Muqoyyim dan Syekh Hasanuddin Ciwaringin beserta para santrinya.

Berpuasa Selama 12 Tahun

Mbah Muqoyyim selain aktif mengajar dan bergerilya dikenal juga sebagai tokoh ahli Tirakat (riyadhah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Menurut banyak sumber, beliau pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Niat puasa beliau dibagi menjadi empat bagian yaitu 3 tahun pertama ditujukan untuk keselamatan Buntet Pesantren, 3 tahun kedua untuk keselamatan anak cucunya, 3 tahun ketiga untuk keselamatan para santri dan pengikut setianya dan terakhir 3 tahun keempat untuk keselamatan dirinya. (demos)

Tidak ada komentar: